
Rindu yang paling patah
Aku rindu padamu
Seperti saat kau jauh dari sepasang mata ibumu
Yang tak sanggup terucap kata atau rinai air mata
Dan, menghitung laju waktu adalah luka
Bilamana kita berjumpa
Akankah menunda waktu untuk berpisah?
Tidak! Kerinduan senantiasa berkisah
Pertemuan dan perpisahan itu ibarat sepasang kekasih yang terpisah ruang dan waktu
Lalu, kerinduan adalah jeritan hati yang paling patah
Laku raga pun menjadi latah
Aku tidak mau membaca surat kabar lagi
Pagi-pagi sekali
Koran membawa kabar seksi
Tentang kekerasan dan korupsi
Tentang pembunuhan dan pornografi
Tentang pemerkosaan dan bunuh diri
Bukan wartawan tidak tahu diri
Tetapi subjek pemberitaan yang kehilangan harga diri
Pagi-pagi sekali dan setiap hari
Koran membawa kabar yang katanya paling โterkiniโ
Terlalu dini aku mengerti
Lalu buru-buru membacanya
Masih saja seksi dan tentang hal serupa
Waktu dan tempat saja yang beda
Aku tidak mau membaca surat kabar lagi
Rindu yang paling riuh
Dafrozaโฆ
Kalau saja kau di sini
Aku ingin kau menjawab pertanyaanku
Lantaran nafasku selalu menghembuskan aroma tubuhmu
Tentang ๐๐ข๐ช๐ด๐ฐ๐ฏ ๐๐ณ๐ข๐ฏ๐ค๐ช๐ด ๐๐ถ๐ณ๐ฌ๐ฅ๐ซ๐ช๐ข๐ฏ ๐๐ข๐ค๐ค๐ข๐ณ๐ข๐ต ๐๐ฐ๐ถ๐จ๐ฆ dan ๐๐บ๐ณ๐ฆ๐ฅ๐ฐ ๐๐ถ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ช ๐๐ฐ๐ช๐ด๐ฆ parfum kesukaanmu
Atau bau keringatmu yang seperti amoniak
Hidungku senantiasa terjejal segala yang tercium tentangmu
Dalam lamunan yang terbilang biasa
Hati dan pikiranku mengendus jejakmu
Kendati langkah kakimu meninggalkan bebunyian
Namun tak ada yang paling riuh dari rindu yang entah
Doa Umat:
โฆโฆ
โฆโฆ
Pastor: Marilah kita menyampaikan ujud dan intensi kita masing-masing.
Seorang Umat: Tuhan, gerakkanlah hati dan pikiran pastor kami, agar mampu membudayakan kebiasaan berefleksi dan berliterasi, sehingga ia mampu memberikan kotbah yang dapat menyentuh dan menggugah hati dan pikiran umatnya, kotbah yang dapat dipahami, dicerna dan dipetik hikmahnya, kotbah yang sarat makna, tidak panjang-panjang, bertele-tele, kosong dan ngelantur. Amin!
Tigus, pastor kami!
Tigus, pastor kami!
Pada Minggu pagi menjelang perayaan mingguan
Kami melihat Tuhan dari balik semringah senyumannya
Ketika berkhotbah, ia menuturkan yang baik-baik sesuai pesan bacaan liturgi Minggu itu
โDemikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.โ
Kami mendengar dengan baik, hampir tujuh kali ia mengulangi naas yang tersurat dalam Injil tadi
Kami membatin, sedang lantang suaranya menggetarkan tiang-tiang, plafon, atap dan sudut-sudut rumah Tuhan
Bukanlah suatu kewajiban untuk mendengarkan khotbah, tetapi Ia adalah seorang yang sangat kami kagumi lantaran kewibawaannya, kepiawaiannya dalam berkhotbah, kecerdasannya dalam membawakan sabda Tuhan secara kontekstual
Minggu-minggu berlalu
Facebook, TikTok, Instagram, story WhatsApp ramai-ramai membawa kabar
Tigus, tidur dengan istri orang!
Ia memisahkan apa yang telah dipersatukan Allah
Berita itu kembali menggetarkan tiang-tiang, plafon, atap dan sudut-sudut rumah Tuhan
*) Penulis dengan nama lengkap Marselus Natar adalah seorang Rohaniwan Katolik. Sekarang menjadi guru magang di perbatasan Indonesia-Malaysia. Selain sebagai penulis, baik puisi maupun cerpen, ia juga seorang penikmat karya sastra karangan siapapun, penikmat kopi, singkong dan lagu dangdut. Kelima puisinya ditulis pada 8 Juni 2024.