Author: HD
-

Membincang Turuk Empo dalam Budaya Manggarai dan Relevansinya dengan Perkawinan
Oleh: Marselus Natar* Di tengah arus modernisasi dan pergeseran nilai-nilai tradisional, masyarakat Manggarai di Nusa Tenggara Timur masih mempertahankan sejumlah kearifan lokal yang sarat makna dan fungsi sosial. Salah satunya adalah konsep turuk empo, sebuah sistem genealogis yang menjadi penanda garis keturunan dalam masyarakat adat Manggarai. Konsep ini bukan sekadar alat penanda asal-usul, tetapi berperan…
-

Satu Dekade GGD Flotim, Jejak Pengabdian di Tanah Lamaholot
Oleh: Gerardus Kuma Apeutung* Terhitung sejak dilepas secara resmi oleh Presiden Jokowi di Istana Negara, pada tanggal 25 Mei 2015 silam, maka tahun 2025 ini menandai satu dekade pengabdian Guru Garis Depan Flores Timur di tanah Lamaholot. Adalah program Guru Garis Depan (GGD) yang membawa kami untuk mengabdi di tanah ini. Guru Garis Depan merupakan…
-

Lusia: Antara Cinta yang Ditanam dan Luka yang Dipanen
Oleh: Iwan Kurniawan* (Gambaran kisah beberapa sahabat yang menemukan cinta di perantauan lalu pulang kampung berakhir luka). Mentari pagi itu malu-malu mengintip dari sela pohon sawit yang tinggi rimbun menjulang di Kalimantan Barat. Embun masih menempel di ujung-ujung daun ketika Lusia menyusuri lorong kebun dengan semprotan pupuk di punggung dan sabit kecil tergantung di pinggangnya…
-

Final Golo Meni Cup 3 Tahun 2025: Pasir Putih FC Taklukkan Mukun United di Rumah Sendiri
Oleh: Iwan Kurniawan* Mukun, 15 Juni 2025. Langit Mukun sore ini sangat cerah, namun udara di sekitar lapangan penuh ketegangan. Drum band dari SMA St. Arnoldus Mukun membuka seremoni megah dengan irama semangat yang menghentak. Tropy Golo Meni Cup 3 diarak megah, seperti mahkota emas yang sedang menanti tuannya. Di panggung hijau, dua gladiator telah…
-

Pastor yang ‘Tak Mengumat’ (Eulogi Romo Pius Laba Buri, Pr.)
Oleh: Robert Bala* Setelah 15 tahun berada di satu paroki (Lerek – Lembata, NTT) yang sama, yang dikenal sebagai ‘medan yang berat’ (karena umatnya ‘kepala batu’), tentu saja judul tulisan ini tidak diterima. Bagaimana seseorang yang sudah begitu lama mengabdi di satu tempat, tidak ‘digoyang’, sementara pastor paroki lain sudah mengalami perpindahan 2 – 3…
-

Stockholm, Lingkungan Hidup, dan Masalah Geothermal Flores
Oleh: Stefanus Wolo Itu* Stockholm Dan Lingkungan Hidup Kamis, 5 Juni 2025, kita memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Saya teringat kota indah di kawasan Skandinavia: Stockholm, Swedia. Kota terbuka di tepi danau Mäleran, berhiaskan taman-taman indah. Stockholm pernah digelari “Venesia di Utara”. Di sana juga berdiri megah tiga situs budaya dunia: istana Drottningholm, Skogskyrkogärden, dan…
-

Komunio Pertama dan Kisah Pilu Burkina Faso (Bagian Pertama)
Oleh: Stefanus Wolo Itu* Tahun 2025. Tahun kesebelas di negeri Alpen Swiss. Sekaligus tahun terakhir melayani komunio pertama. Tepatnya di wilayah atau ruang pastoral Mittleres Fricktal. Wilayah lembah tengah Frick. Sebuah lembah indah di sisi selatan sungai Rhein. Berbatasan langsung dengan negara Jerman. Hampir setiap minggu saya ke sana. Berjalan kaki melintasi jembatan kayu. Holzbrücke…
-

Geothermal, Kehilangan Surga, dan Seruan Kenabian Para Uskup (Bagian Ketiga)
Oleh: Stefanus Wolo Itu* Geothermal dan Surga yang Hilang Sejak tanggal 16 Januari 2025, kata “geothermal” mendunia. Awalnya dari Uskup Budi Kleden. Di rumah Keuskupan Ndona Ende Flores. Beliau berbicara tegas di hadapan para imam dan biarawan/wati. “Setelah mendengar berbagai kesaksian dari sejumlah orang di Sokoria juga dari Mataloko dan pembicaraan dengan sejumlah Imam, saya…
-

Sankt Gallen dan Impian Hampa Geothermal Sittertobel (Bagian Kedua)
Oleh: Stefanus Wolo Itu* Seputar Sankt Gallen. Beberapa kali saya mengunjungi wilayah Kanton dan ibu kota Sankt Gallen. Kanton ini berada di timur laut Swiss. Bila Basel terletak di sudut tiga negara, Kanton Sankt Gallen berada di sudut empat negara: Swiss, Jerman, Austria, dan Lichtenstein. Hebat Sankt Gallen. Sankt Gallen adalah nama negara federal sekaligus…
-

Basel, Geothermal, dan Surat Gembala Prapaskah (Bagian Pertama)
Oleh: Stefanus Wolo Itu* Hari Sabtu 29 Maret lalu, saya pergi ke Basel. Jarak Eiken-Basel 30 kilometer. Jarak ini ditempuh dalam waktu 30 menit dengan kereta. Sejak 10 tahun lalu, saya sering ke sana. Ya, untuk berbagai keperluan. Berbelanja. Bertemu dan jemput tamu. Juga menikmati keindahan objek wisata kota Basel. Kota Basel terletak di perbatasan…